Skip to main content

Posts

this too shall pass away

Beberapa tahun terakhir ini aku merasa sedang jelek-jeleknya.  Jadi aku menyembunyikan diriku. Menarik diriku dari kehidupan sosial yang biasanya aku jalani dengan cukup normal. 원래 누굴 좋아할수록 보여주기 싫은 것도 많아지는 거니까 Ada yang bilang, semakin kita menyukai seseorang, kita tuh maunya hanya menunjukkan sisi terbaik kita. Semakin berharga, semakin sayang kita pada orang-orang di sekitar kita, semakin membuat kita berusaha untuk menyembunyikan sisi terjelek, sisi lemah yang kita punya. Bukan untuk menyombongkan diri, tapi hanya untuk menunjukkan bahwa kita cukup kuat, cukup baik, cukup pantas untuk berada di sisi mereka. Aku pengennya orang-orang lihat sisi terbaikku aja, I'm only wanting to show my strengths and my good sides.  Aku tidak mau orang-orang jadi tahu sisi lemahku, lalu mulai merasa kasihan, lalu mulai menilaiku macam-macam.  I compare myself to other people a lot. I compare myself so much,  blame myself when I can't do something,  and begin to think of mys...

berhenti berharap

Keseharianku sekarang aku habiskan dengan bersih-bersih rumah. Menyapu, mengepel, mencuci piring, semuanya secara natural aku lakukan setelah aku bangun tidur. Tidak ada yang meminta, apalagi ada paksaan. Aku mulai menyukai meminum hot chocolate –––tentu saja buatan sendiri, membuat kue dan mulai membiasakan diri untuk membaca kembali. Pernah pula aku membuat kue dan membersihkan dapur tengah malam ketika sedang tidak bisa tidur, yang membuat ibuku mengira rumah disatroni maling. Namun sayangnya, sepertinya ayahku, tidak, tidak hanya ayahku, tapi juga ibuku–––baiklah, kedua orang tuaku, cukup tertekan karena kebiasaan baruku yang menurutku cukup mulia––– membersihkan rumah dan membuat kue––– ini. Melihatku yang sama sekali tidak memiliki keinginan untuk melamar pekerjaan kembali, atau untuk kembali tergerak mencari beasiswa pascasarjana, dan karena aku yang berkali-kali mengatakan aku sama sekali tidak berniat melakukannya, sepertinya menambah tekanan pada mereka berdua. Sepertinya ...

ending scene

Hi, good morning. It's a good day to write something just to make sure that I'm in a good mental condition, too. So, some people say that mental health awareness is essential. Well said, that's true. Back then, almost every day, I cried myself out. I couldn't sleep. I have nowhere to go. No friends. All I did was lying in my bed just like a zombie. Job pressure, low salary, and toxic work environment were good enough to make me think, "I think I could end this if I fall down the stairs." Yes, I had a self-harm thought, but I have no one to tell cause I think everybody has their own burden. It's almost been two months since I quit my job, and I found myself enjoying this life. No, I'm not thoroughly enjoying it, but it's better than last year when I had a job. You must be thinking I'm crazy cause I'm enjoying jobless life. I didn't know that being jobless could be stressful yet so fun and exciting. To be honest, I have no intention of se...

seperti udara

Kepada kamu, Aku tidak yakin apakah kamu akan membaca ini atau tidak.  Mungkin suatu hari nanti,  entah kapan,  kamu akan secara tidak sengaja akan menemukan tulisan ini  dan mengetahui bahwa tulisan ini aku tujukan kepadamu. Pada awalnya aku tidak benar-benar memahami atau menyadari arti dari ada dan tidak adanya kamu. Keberadaanmu untukku sudah seperti udara. Ada tanpa aku sadari, dan ketidakadaanmu membahayakanku.  You just here, naturally being by my side.  Menghabiskan waktu denganmu tanpa melakukan apapun, buatku adalah sesuatu yang menyenangkan.  But it might be some kind of burdensome to you.  Aku selalu berceloteh ria menceritakan bagaimana hariku kepadamu.  Tanggapan datar dan cuekmu itu, though it hurts but I'm being used to it .  T idak apa-apa... aku memang sudah biasa bercerita sendiri dan menanggapi cerita itu sendiri. Setiap aku merasa sedih, sendiri, merasa terpuruk, entah kenapa aku memikirkanmu, wish you were here....

2020: Penutup

Everyone carries their own burdens. Aku pikir bukan hanya aku, tapi semua orang juga merasakan, bahwa tahun ini adalah tahun yang cukup sulit. Setiap orang berusaha sangat keras dengan kemampuannya masing-masing untuk tetap hidup dan bernafas.  Aku ingin bercerita. Membagi kisah. Membagi beban. Tapi aku pikir aku tidak pantas mengeluh pada orang lain ketika orang lain juga memiliki kisah dan beban. Aku mencoba menahan diri agar tidak mengeluh, karena semua orang juga memiliki keluhannya masing-masing, bahkan lebih berat daripada milikku.  Aku pikir aku adalah orang yang mampu bertahan dengan sangat baik. Aku pikir aku adalah orang yang cukup lihai untuk beradaptasi dengan keadaan sulit. Aku pikir aku akan baik-baik saja. Ternyata tidak. Aku tidak baik-baik saja. Cukup banyak aku menangis, sampai kering air mataku. Aku pikir setelah tangisanku berhenti, aku akan kembali baik-baik saja.  Tapi ternyata tidak.  Aku sudah berteriak penuh amarah, sampai kering tenggorokank...

bernafas sejenak

Am I really the only one who's been wanting to hide out from the sun and run? 子供のころ、大きくなったら大学に行って、普通に卒業して、普通に仕事して、二十五ぐらい結婚するかなあと思ってた。なのに今私は .......... Dalam keheningan, aku selalu berpikir mengapa aku selalu hidup dengan cara yang menyedihkan. Tidak berani berkata tidak untuk hal yang tidak diinginkan. Tapi tidak pula berani mengiyakan sesuatu yang sangat diharapkan. Aku, seandainya diberi kesempatan untuk kembali ke masa lalu dan mengubahnya, aku ingin mengatakan pada diriku di masa lalu untuk berhenti melarikan diri dan bersembunyi. Aku ingin mengatakan pada kedua orangtuaku, I’m sorry mom, dad, I’m not a good girl. I don’t deserve to be loved. Tidak harus berzodiak Taurus untuk menjadi seorang keras kepala. Tidak harus bergolongan darah O untuk menjadi seorang yang ramah dan supel. Iri. Pendengki. Egois. Anti-kritik. Ambisius. Menyedihkan. Manusia pada dasarnya memiliki sifat yang sama namun dengan proporsi yang berbeda tergantung dengan lingkungan tempatnya dibesar...

no, you're not alone

The problem is you wanna be alone, but you don’t wanna be lonely. Ada saat-saat dimana aku ingin menarik diri dari kehidupan sosial yang penuh dengan kepalsuan, lalu memilih menghabiskan waktu seorang diri. Bersenang-senang dengan dunia fantasiku sendiri lebih membahagiakan daripada harus mengenakan topeng dan berpura-pura ramah kepada semua orang. Tetapi di saat itu pula aku ingin ada seseorang yang mendekatiku dan bertanya, “ada apa?” “kamu kenapa? Sini cerita” kepadaku yang skeptis dan overthinker ini. Tentu saja aku tidak akan langsung serta-merta menceritakan semua yang mengganggu dan memenuhi pikiranku. Tentu saja pula aku akan menjawab “aku tidak apa-apa” kepada seseorang yang telah merelakan detik berharganya untuk bertanya bagaimana keadaanku. Ketika sekolah menengah pertama, aku mengenal seseorang. Selama tiga tahun berturut-turut kami ada di kelas yang sama. Aku bahkan menangis haru ketika upacara pelantikannya sebagai ketua OSIS saat itu. Aku mungkin s...