Skip to main content

i write sins not tragedies

Kadang aku suka merasa malu kalau orang tahu aku kerja di Jepang.

 

Soalnya, entah kenapa, ketika mendengar seseorang kerja di luar negeri—apalagi di Jepang—orang sering langsung punya bayangan tertentu: kerja kasar, kerja pabrik, TKI, kerja tidak stabil, dan semacamnya.

 

Aku yang kolot ini selalu punya pemikiran bahwa pergi ke luar negeri itu lebih baik untuk sekolah, karena sekolah di luar negeri terasa lebih keren. Lebih bergengsi. Lebih layak dibanggakan.


Walaupun kadang kalau ditanya kerja apa, aku suka bercanda dengan menjawab, “TKI.”

 

Benar. Secara harfiah, aku juga seorang TKI.

 

Tapi tetap saja, ada bagian dari diriku yang merasa, “Aku nggak mau dipandang seperti itu.”

 

 

Lucunya, aku juga sadar kalau aku sendiri punya pandangan yang nggak jauh berbeda.



Kalau ketemu orang Indonesia—walaupun jarang, karena aku memang suka bodo amat sama orang yang tidak dikenal—atau orang asing lain yang bekerja di pabrik, terutama yang masih satu perusahaan denganku, hanya saja aku bekerja di bagian kantor dan lebih spesifik sesuai bidang yang kupelajari, kadang muncul perasaan bahwa aku punya “level” yang lebih tinggi dari mereka.


Astaghfirullah.


Maafkan aku, tapi memang ada rasa seperti itu.


Ada bagian dari diriku yang merasa lebih superior. Dan karena itu, aku nggak suka kalau pekerjaanku disamakan begitu saja dengan mereka.


Seolah-olah bertahun-tahun sekolah, gelar, kemampuan, dan posisi kerja harus menjadi pembeda yang cukup jelas agar aku merasa bahwa aku telah sampai di tempat yang “lebih baik”.


Entah sejak kapan perasaan itu ada.


Dan yang lebih menyebalkan, rasanya seperti ada sesuatu dalam diriku yang terus-menerus perlu membuktikan hal itu.


Seolah-olah aku perlu memastikan bahwa aku tidak berada di bawah.


Lucunya, di saat yang sama, di kantor aku justru dikelilingi orang-orang Jepang (Oke, semuanya orang Jepang, hehe...)


Dan di sana, perasaanku justru berbalik 180 derajat.


Aku merasa kecil.


Sering kali bahkan merasa bodoh dan tidak berguna.


Sampah.


Bukan karena aku benar-benar nggak tahu apa-apa, tapi karena ada tembok bahasa yang begitu tinggi dan tebal, sampai hal-hal yang seharusnya gampang pun terasa susah.


Kemampuan bahasa Jepangnya masih pas-pasan.


Bahasa Inggris yang dulu lumayan sering kupakai sekarang perlahan melemah karena hampir nggak pernah digunakan.


Bahasa Indonesiaku juga rasanya ikut menurun karena semakin jarang dipakai.


Ironisnya, malah celetukan-celetukan spontan di kepalaku sekarang lebih sering keluar dalam bahasa Korea.


Jadi rasanya lucu juga.


Di satu tempat, aku merasa perlu membuktikan bahwa aku lebih tinggi dari orang lain.


Tapi di tempat lain, aku justru merasa jadi orang yang paling kecil, paling tidak tahu apa-apa, dan paling lambat menangkap sesuatu.




Kadang aku jadi bertanya-tanya: sebenarnya perasaan menjijikkan apa yang sedang aku rasakan?



아 진짜, 왜 이러지...





Mungkin sebenarnya aku tidak sedang merasa lebih tinggi.


Mungkin aku hanya takut dianggap rendah.


Dan mungkin, tanpa kusadari, cara paling mudah untuk memastikan bahwa aku tidak berada di bawah adalah dengan menempatkan orang lain di bawahku.


Kadang aku juga bertanya-tanya, kenapa sampai umur segini aku masih belum punya kepercayaan diri?


Kenapa aku masih merasa nggak punya apa-apa yang benar-benar bisa dibanggakan?


Kenapa aku masih suka membanding-bandingkan diri dengan orang lain?


Kenapa aku masih bisa merasa lebih rendah dari orang lain, tapi di saat yang sama merasa superior dari orang lain?


Bukankah seharusnya, semakin dewasa, kita semakin selesai dengan hal-hal seperti ini?


Ternyata tidak.


Tau nggak, kadang aku juga bertanya-tanya bagaimana kabar orang-orang yang sudah meninggalkanku.


Bukan karena aku benar-benar ingin tahu kabar mereka.



Aku ingin memastikan bahwa aku sekarang berada di tempat yang lebih tinggi.


Bahwa setelah semua yang terjadi, setidaknya aku tidak kalah.


Kadang aku bahkan mengutuk mereka dalam hati, supaya mereka hidupnya lebih buruk dan diam-diam aku ingin mereka tidak lebih bahagia dariku.


Entah kenapa, ada bagian dalam diriku yang masih ingin menang dari orang-orang yang bahkan sudah keluar dari hidupku.


Mereka sudah pergi, tapi aku masih membawa mereka ke mana-mana.


Masih menjadikan hidup mereka sebagai ukuran untuk menilai hidupku sendiri.


Masih ingin membuktikan sesuatu kepada orang-orang yang mungkin bahkan sudah tidak memikirkanku.





Tapi kemudian aku ingat lagi:

Kapan lagi punya pekerjaan yang, walaupun kadang sibuk, sesekali saking selonya aku bisa nonton drakor atau baca novel di sela-sela kerja, tinggal di Jepang, dan bergaji dua digit?


Bukankah seharusnya aku bersyukur?


Tapi ternyata rasa syukur tidak selalu datang dalam bentuk perasaan bahagia.


Kadang ia datang bersama rasa malu.


Bersama rasa minder.


Bersama kesombongan yang diam-diam membuat kita malu pada diri sendiri.


Bersama kesadaran bahwa kita ternyata masih sangat ingin diakui.


Mungkin pekerjaan ini memang cukup baik untukku.


Mungkin hidupku sekarang juga sebenarnya cukup baik.


Hanya saja, entah kenapa, berada di tempat yang baik tidak selalu membuat seseorang merasa dirinya cukup baik.

 


Comments

Popular posts from this blog

aku dan apa yang mereka sebut sebagai ujian nasional

Dan disinilah aku sekarang. Duduk di belakang meja kayu di sebuah ruang ujian dalam ketegangan yang sungguh sangat menyebalkan. Tidak, tentu saja aku tidak sendirian. Ada sembilan belas anak lain yang juga bernasib sama denganku di ruangan ini. dan masih ada ribuan anak lain seumuranku yang juga merasakannya. Ketika kami diharuskan....ah tidak, karena memang ini sudah seharusnya bagi kami, untuk menghadapi hal sesuatu semacam ini. sesuatu yang mereka sebut, ujian nasional. Aku rasa, tidak hanya aku yang berkeringat dingin ketika menatap lembaran-lembaran kertas soal yang ada di hadapanku. Aku tahu aku bukan satu-satunya. Bahkan kupikir ada yang mengalami hal yang jauh lebih buruk dari ini. dan aku bersyukur karena itu. dan entah bagaimana rasa tegang yang menyelimuti pikiranku sejak seminggu yang lalu, kini menguap begitu saja. Hanya saja, yang aku agak khawatirkan adalah perasaan bahwa semua hal yang aku pelajari berbulan-bulan yang lalu juga ikut dibawa pergi. Aku sepertinya s...

long gone and moved on

……I was born to tell you I love you. And i am torn to do what i have to. To make you mind stay with me tonight… “itu lagunya siapa kak?” Kamu berhenti bermain gitar dan memandangku, “laguku dong”. “yang bener ah…” “loh iya beneran. Bagus ya?” “huuu ini mesti bohong terus. Lagunya siapa?” “punyanya secondhand serenade, judulnya your call” *** Gitar tua itu masih disana. Masih tergantung anggun di dinding di sebelah meja belajar. Gitar tua itu masih sama seperti dulu. Nada-nadanya juga tidak berubah menjadi sumbang. Gitar itu tetap menjadi gitar yang penuh dengan kenangan. Penuh dengan serpihan-serpihan masa lalu. Mungkin itu yang membuatku tak berani menyentuhnya barang sesentipun. Lagipula untuk apa? Aku bahkan tak bisa memainkannya sama sekali. Aku hanya tahu chord C saja. Apa gunanya? Lagu apa yang hanya menggunakan chord C? Tidak ada. Aku ingat, dulu, aku sering ditertawakan gara-gara hal ini.  Selalu…..oleh orang yang sama………. semuanya sekarang sudah berubah. ...

gitar tua

Aku tak menyangka, bahwa saat ini aku merindukan kembali saat-saat itu, ketika kau selalu memainkan gitarmu dengan raut muka seolah-olah kau adalah gitaris ternama. Kau lucu sekali kak , pikirku saat itu. S etiap hari kau tak pernah lepas dari gitar itu. G itar itu sudah seperti pacarmu sendiri. Kau tak pernah melewatkan sedetikpun tanpa dentingan-dentingan gitarmu itu. D an aku mulai menyukaimu semenjak saat itu. Entahlah, saat itu aku berpikir , mungkin bagimu tak ada satupun hal yang pentingnya melebihi gitar itu. I tu hanya gitar tua , t api kau memperlakukannya seolah gitar itu salah sentuh sedikit saja langsung berubah menjadi abu. Aku akui, kau terlihat sangat hebat sekali saat bermain gitar. Kau memainkannya dengan hati sehingga s emua lagu terasa makin indah. D an aku mulai terpesona padamu semenjak saat itu. “ B isakah kau berhenti bermain gitar dengan ekspresi seperti itu kak? Aku gemes sekali. Rasanya aku ingin menggaruk mukamu dengan linggis ” , ujarku saat itu...