Skip to main content

Posts

i write sins not tragedies

Kadang aku suka merasa malu kalau orang tahu aku kerja di Jepang.   Soalnya, entah kenapa, ketika mendengar seseorang kerja di luar negeri—apalagi di Jepang—orang sering langsung punya bayangan tertentu: kerja kasar, kerja pabrik, TKI, kerja tidak stabil, dan semacamnya.   Aku yang kolot ini selalu punya pemikiran bahwa pergi ke luar negeri itu lebih baik untuk sekolah, karena sekolah di luar negeri terasa lebih keren. Lebih bergengsi. Lebih layak dibanggakan. Walaupun kadang kalau ditanya kerja apa, aku suka bercanda dengan menjawab, “TKI.”   Benar. Secara harfiah, aku juga seorang TKI.   Tapi tetap saja, ada bagian dari diriku yang merasa, “Aku nggak mau dipandang seperti itu.”     Lucunya, aku juga sadar kalau aku sendiri punya pandangan yang nggak jauh berbeda. Kalau ketemu orang Indonesia—walaupun jarang, karena aku memang suka bodo amat sama orang yang tidak dikenal—atau orang asing lain yang bekerja di pabrik, terutama y...
Recent posts

30

Rasanya baru kemarin aku bersorak kegirangan saat membuka website snmptn 2014 karena diterima di kampus pilihanku. Iya, 2014. Dua belas tahun yang lalu. Aku yang saat itu baru saja menginjak umur 18 tahun, tidak akan pernah menyangka, dalam satu dekade ke depan, setelah lulus pascasarjana, aku akan bekerja di salah satu perusahaan di Jepang.   Dalam 12 tahun itu, ada begitu banyak hal yang terjadi. Hahaha. Diterpa pahitnya kenyataan dan penolakan dunia, ternyata membuat aku ketakutan dan menarik diri dari kehidupan sosial. Aku secara sadar mulai berusaha menghapus jejak dari dunia—pelan-pelan, sedikit demi sedikit, sampai rasanya lebih aman untuk tidak terlihat sama sekali. Seperti tidak ingin memberi dunia terlalu banyak kesempatan untuk menyentuh, apalagi menyakitiku lagi.   Kudapati diriku tidak bisa lagi menulis sebebas 12 tahun yang lalu.   Percayalah, aku sudah berulang kali berusaha untuk menulis lagi. Tapi buntu. Satu paragraf pun tidak mampu. Selalu berhenti dan ...

I am today because of the choices I made yesterday

Ceritanya aku habis selesai nonton drama korea. Drama comeback Jang Kiyong setelah wajib militer. Drama 12 episode tentang satu keluarga yang punya kekuatan super, yang walaupun kekuatan yang mereka miliki nggak bikin mereka jadi superhero karena mereka merahasiakannya dan cuman menggunakan kekuatannya buat kepentingannya pribadi, bukan untuk kepentingan orang banyak. Judulnya the atypical family (히어로는 아닙니다만), tayang di netflix. Di dalam drama ini, Kiyong dapet peran jadi Gwijoo, duda ganteng anak satu, yang walaupun pengangguran tapi kaya raya. Gwijoo punya kekuatan untuk time-slip ke masa lalu, ke masa-masa dimana dia merasa bahagia. Tapi, dia cuman bisa jadi penonton. Ngga bisa nyentuh apapun, ngga bisa dilihat siapapun, jadi nggak bisa mengintervensi apapun di timeline itu. Dunia yang dia kunjungi hitam-putih. Hanya dia yang berwarna. Such a useless superpower, he thought, makanya ketika dewasa dia jadi seorang pemadam kebakaran (walaupun ga berlangsung lama) saking pengennya jadi ...

마지막 인사

Sudah berkali-kali bilang, udahlah bodo amat, tapi masih kepikiran, adalah penjelmaan riil daripada aku. Rasa-rasanya ngga akan berhenti untuk nggak kepikiran sampai serangga-serangga berisik yang berputar-putar di dalam kepalaku ini aku tuangkan dan realisasikan dalam tulisan. So, this is what I really wanted to say. Well, I don't expect and never hope you will find this. I guess you don't care anymore. It's okay. I don't expect you to care, though. I just want to clear myself up. Cerita ini berawal dari suatu siang, aku membaca pesan masuk di aplikasi messenger, setelah kurang lebih seminggu tidak pernah kubuka. Ada satu pesan masuk tidak terduga, yang sekejap membawa kembali kenangan itu. Setelah membaca pesan itu, aku membatin, 걔가 그동안 행복하게 잘 살았구나.... でもさ....メッセージで “…aku nggak tega sebenernya mau ngasih tau….”ってどういうことなのー??気持ち悪いけど…? Apa ya....agak ngedongkol gitu ya di hati? Could not help but felt offended, hehe. すごく気になるけど、 聞きたいけど、 我慢してしまった Bukan. Bukan karena akhir...

(well) wrapped

시작이라는 걸 넌 믿을 수 있겠니?? 흔들리지 않게 걸어 나아갈 수 있을지?? sebenarnya sudah lama merencanakan untuk menulis lagi setelah sekian lama. keinginan itu ada, tapi dorongan untuk merealisasikannya itu yang agak berat ya. memang musuh utamaku adalah rasa malas. inti utama dari cerita kali ini adalah bagaimana aku berhasil dengan cukup baik melalui tahun 2022:  berhasil kembali ke Jepang, entah bagaimana berhasil bertahan hidup dengan berbagai bantuan, melewati pergantian tahun dengan bekerja paruh waktu, dan memulai awal tahun dengan pengamatan di laboratorium. berkali-kali aku bilang, bahwa my life is nothing but a comedy.  menyedihkan, tapi aku tertawa.  tidak menarik, tapi aku menikmatinya. aku akan flashback memori, semampu yang aku ingat, apa saja yang aku lalui tahun lalu. sekedar untuk mengingat bahwa aku sudah berusaha, tidak cukup bagus, tapi cukup baik. januari. tidak ingat. aku tidak ingat. apa ya yang aku lakukan? di rumah? membatasi bertemu orang-orang, bahkan dengan teman-temanku...

happiness?

I am sorry for taking so long to write again this time. 너무 바빠서 죽을뻔 했어ㅜㅜ aku lebih memilih untuk tidur dan istirahat ketika ada waktu luang karena akhir-akhir ini aku kurang sehat dan kurang istirahat. aku merasa mudah menyesuaikan diri dengan lingkungan baru. pun dengan lingkungan dan suasana baru yang sedang aku jalani saat ini. mungkin karena ini bukan yang pertama kalinya, jadi aku merasa badanku sudah terlatih dan merasa lebih adaptable dan flexible. jadi aku merasa datang ke jepang seperti layaknya kembali ke rumah. aku hanya perlu mengulang kembali semua yang pernah aku lakukan lima tahun yang lalu, hanya bedanya kali ini aku harus mengusahakan semuanya sendiri. It takes time to make it come true. Moreover, it was worsened by coshit-nineteen. Finally, I can return to Japan, not as a tourist but as a student. よかったねー 근데...너무 힘들어... 힘들지만 참아!!! Although I only get a partial scholarship at a regular-not-so-special university, I make good friends with the faculty academic and the inter...