Skip to main content

30

Rasanya baru kemarin aku bersorak kegirangan saat membuka website snmptn 2014 karena diterima di kampus pilihanku. Iya, 2014. Dua belas tahun yang lalu. Aku yang saat itu baru saja menginjak umur 18 tahun, tidak akan pernah menyangka, dalam satu dekade ke depan, setelah lulus pascasarjana, aku akan bekerja di salah satu perusahaan di Jepang.

 

Dalam 12 tahun itu, ada begitu banyak hal yang terjadi. Hahaha. Diterpa pahitnya kenyataan dan penolakan dunia, ternyata membuat aku ketakutan dan menarik diri dari kehidupan sosial. Aku secara sadar mulai berusaha menghapus jejak dari dunia—pelan-pelan, sedikit demi sedikit, sampai rasanya lebih aman untuk tidak terlihat sama sekali. Seperti tidak ingin memberi dunia terlalu banyak kesempatan untuk menyentuh, apalagi menyakitiku lagi.

 

Kudapati diriku tidak bisa lagi menulis sebebas 12 tahun yang lalu.

 

Percayalah, aku sudah berulang kali berusaha untuk menulis lagi. Tapi buntu. Satu paragraf pun tidak mampu. Selalu berhenti dan berakhir di kalimat kedua atau ketiga. Semua pikiran yang bercampur-aduk ini tidak bisa lagi aku jelaskan dalam kata-kata. Lost in translation.

 

Aku ternyata lebih pendendam dan pendengki daripada yang aku pikirkan.

 

Sebenarnya, bagaimana aku menjalani hidup selama 12 tahun ini?

 

Aku berhasil sampai di tempat yang dulu mungkin kuimpikan. Tapi ketika menoleh ke belakang, aku bahkan tidak yakin aku mengenali orang yang sampai ke sini.

 

Apakah aku masih Nadia?

 

Atau Nadia memang seperti ini sejak awal?

 

 

Comments

Popular posts from this blog

andai aku cantik.....

Sebelum aku benar-benar menuangkan isi pikiranku dalam tulisan ini. Aku berharap apa yang aku pikirkan hanyalah perasaanku semata. Semata-mata perasaan hanya karena pemikiran aneh dan semoga tidak benar-benar terjadi seperti apa yang aku pikirkan. Tapi pikiran ini cukup menggangguku. Dan kamu, tidak, tidak hanya kamu, tapi kalian semua yang membaca tulisan ini harus tau apa saja yang menggangguku. Andai aku cantik. Bukan. Ini bukan karena aku tidak mensyukuri apa yang sudah Allah berikan padaku. Tapi pemikiran “andai aku cantik” ini terus-menerus memenuhi pikiranku dan mulai terasa mengganggu. Aku terlahir seperti ini. Tidak cantik. Tidak pintar. Tidak memiliki kelebihan apapun yang bisa dibanggakan. Aku tidak memiliki sesuatu yang membuat mereka dengan lantang berkata dan mengumandangkannya pada dunia, “aku bangga punya Nadia. Aku bangga ada Nadia disini. Dan aku bangga dari sekian ratus juta penduduk Indonesia, aku diberi kesempatan mengenal Nadia”.  Andai aku cantik. ...

miracle of music

Music lets us remember some memories in the past through some unknown ways. They could be bad or good memories. This is the reason why I love and hate music at the same time. Aku selalu bertanya-tanya, bagaimana caranya, kenapa bisa, dan kenapa musik selalu saja berhasil menuntun pendengarnya untuk kembali mengarungi ingatan di masa lalu. Jika orang bilang musik memiliki kekuatan dan keajaiban. Itu bukan mitos. Bukan legenda. Bukan cerita rakyat. Itu benar adanya. Karena begitu adanya, sama persis seperti yang sedang aku rasakan setiap aku mendengarkan musik-musik tertentu. 음악은 우리를 과거로 되돌릴 수 있는게 참 신기하지? I started to love some musicians due to some particular reasons. And in this post, I’ll tell you what kind of reasons they are. Boleh dibilang, pertama kali aku benar-benar merasakan betapa besar dan luasnya dunia ini adalah aku menginjak masa sekolah menengah pertama, kalau tidak salah itu sekitar tahun 2008 – 2009. Ada teman sekelasku, namanya Amalia. Dia penggila m...

gitar tua

Aku tak menyangka, bahwa saat ini aku merindukan kembali saat-saat itu, ketika kau selalu memainkan gitarmu dengan raut muka seolah-olah kau adalah gitaris ternama. Kau lucu sekali kak , pikirku saat itu. S etiap hari kau tak pernah lepas dari gitar itu. G itar itu sudah seperti pacarmu sendiri. Kau tak pernah melewatkan sedetikpun tanpa dentingan-dentingan gitarmu itu. D an aku mulai menyukaimu semenjak saat itu. Entahlah, saat itu aku berpikir , mungkin bagimu tak ada satupun hal yang pentingnya melebihi gitar itu. I tu hanya gitar tua , t api kau memperlakukannya seolah gitar itu salah sentuh sedikit saja langsung berubah menjadi abu. Aku akui, kau terlihat sangat hebat sekali saat bermain gitar. Kau memainkannya dengan hati sehingga s emua lagu terasa makin indah. D an aku mulai terpesona padamu semenjak saat itu. “ B isakah kau berhenti bermain gitar dengan ekspresi seperti itu kak? Aku gemes sekali. Rasanya aku ingin menggaruk mukamu dengan linggis ” , ujarku saat itu...