Skip to main content

Posts

ketika dinding punya telinga

When secret admirer becomes published admirer.... Aku dulu udah pernah bilang di postinganku yang jaman batu itu... kalo sebuah rahasia akan tetap jadi rahasia sama si pemilik rahasia menghendaki itu untuk tetap jadi rahasia.  Dan kemungkinan rahasia itu terbongkar bakal kecil kalo si pemilik rahasia mampu menjaga sikap, tingkah laku serta omongannya.  Mungkin beberapa orang akan tau dengan sendirinya,  tapi dia mungkin akan tetap diam sampai si pemilik rahasia membagi rahasia yang dia punya kepadanya. Rahasia akan tetap jadi rahasia.  Tapi yang namanya tembok pasti punya telinga.  Dan yang namanya hati pasti nggak bisa disatukan pendapatnya sama otak.  Perasaan itu hati yang ngatur, bukan otak.  Otak sama sekali nggak punya kuasa atas perasaan. Jadi ketika hati sudah muak menyimpan rahasianya sendiri,  ketika perasaan sudah membuncah ingin meledak... jalan satu-satunya yang bisa dilakukan si pemilik rahasia adalah bercerita.  Lewa...

aku ingin menulis tentang kamu

Aku ingin menulis tentangmu.   Lagi.   Mengeluarkan semua hal yang sudah serumit benang kusut di dalam otakku. Aku ingin menulis tentangmu.  Tapi pikiranku mendadak membeku.  Aku tidak tahu harus memulai dari bagian mana.  Aku tidak tahu bagaimana awalnya dan aku tidak mau memikirkan bagaimana akhirnya.   Aku ingin menulis tentangmu.  Tentang bagaimana indahnya senyumanmu. Tentang bagaimana suara gelak tawamu.  Tentang semua kekonyolan-kekonyolan yang kau lakukan.  Aku ingin menulis tentang bagaimana aku jatuh hati padamu.  Tentang bagaimana setiap hal kecil yang kau lakukan bisa membuat duniaku berwarna.  Tentang bagaimana kau datang bagai hujan membasahiku yang kering kerontang.  Tentang bagaimana aku suka memperhatikan lipatan-lipatan kelopak matamu.  Tentang bagaimana aku yang tak pernah berhenti terpesona melihat jari-jarimu menyentuh senar itu. Aku ingin menulis tentangmu.  Seperti mereka.  Yang selalu bis...

aku dan apa yang mereka sebut sebagai ujian nasional

Dan disinilah aku sekarang. Duduk di belakang meja kayu di sebuah ruang ujian dalam ketegangan yang sungguh sangat menyebalkan. Tidak, tentu saja aku tidak sendirian. Ada sembilan belas anak lain yang juga bernasib sama denganku di ruangan ini. dan masih ada ribuan anak lain seumuranku yang juga merasakannya. Ketika kami diharuskan....ah tidak, karena memang ini sudah seharusnya bagi kami, untuk menghadapi hal sesuatu semacam ini. sesuatu yang mereka sebut, ujian nasional. Aku rasa, tidak hanya aku yang berkeringat dingin ketika menatap lembaran-lembaran kertas soal yang ada di hadapanku. Aku tahu aku bukan satu-satunya. Bahkan kupikir ada yang mengalami hal yang jauh lebih buruk dari ini. dan aku bersyukur karena itu. dan entah bagaimana rasa tegang yang menyelimuti pikiranku sejak seminggu yang lalu, kini menguap begitu saja. Hanya saja, yang aku agak khawatirkan adalah perasaan bahwa semua hal yang aku pelajari berbulan-bulan yang lalu juga ikut dibawa pergi. Aku sepertinya s...

Memori Putih Abu-Abu #8: XII IPA 3's ART EXHIBITION

XII IPA3 2012-2014 PROUDLY PRESENTS: ULET API ART EXHIBITION come on, get in and vote your favorite picture! Hai. Postingan kali ini mau nyeritain tentang pameran lukisan yang diadain sama kelasku di hari keempat ujian praktek. Persiapannya serabutan. Ngelukisnya juga serabutan. Tapi hasilnya........ammmmmmmaziiiinggggggggggg. kami mengangkat tema seni tradisional yang modern (?), atau kerennya disebut seni kontemporer, dengan dekorasi pameran mirip colosseum Roma dengan dominasi warna biru dan putih. menggunakan lighting serta backsound yang membuat pengunjung merasa seperti berada di dalam diskotik.

DI ANTARA MIMPI DAN PERSIMPANGAN

You may say I’m a dreamer, but I’m not the only one. Bicara soal mimpi, aku rasa semua orang ya pasti punya mimpi. Dari mimpi yang paling sepele sampe mimpi yang digapaipun rasanya nggak bakal mungkin kesampean. Aku inget, dulu, aku pernah debat sama seseorang, kalo nggak salah sih itu udah 2 tahun yang lalu, waktu aku kelas 1 SMA. Perdebatan antara seorang pemimpi yang idealis dan seorang pemimpi yang realistis. Aku udah lupa gimana endingnya, pokok seingetku, aku sama dia sama-sama nggak mau ngalah, sama-sama keras kepala dan ujungnya kita kembali kepada kepercayaan masing-masing soal mimpi itu sendiri. Baru sadar sekarang kalo debat tiada ujung kaya gitu bener-bener buang-buang waktu. Mimpimu ya mimpimu. Mimpiku ya mimpiku. Dan apapun itu, kamu sama sekali nggak berhak buat ngelarang aku bermimpi. Silahkan aja ketawain mimpiku. Silahkan aja remehkan mimpiku. Tapi lihat nanti, aku pasti bakal ngebungkam mulutmu itu waktu aku berhasil ngerealisasikan mimpiku. That’s called sw...

everybody needs privacy

“kamu kok jahat sama aku?” “apa? Aku jahat apa?” “kamu kok nyebar-nyebarin yang soal rangga ke anak-anak?” “boh emang kenapa nad? Nggak papa kan?” “nggak papa? Apanya yang nggak papa. Aku kan bilangnya rahasia” “nyantai aja wes nad. Wong lagian orangnya kan udah lulus” “terus kenapa kalo orangnya udah lulus?” “yo kamu tenang ae” “KAYA GINI MANA BISA DIBUAT TENANG. PRIVASI ORANG KOK MBOK UMBAR-UMBAR!” Hai. Dulu, aku pernah kan ya mbahas mepet-mepet soal ‘rahasia’. Masih inget kan? Masih. Jawab aja masih, buat nyenengin aku. Nah, postingan kali ini tujuannya untuk memperjelas soal itu lagi. Sudah pada tau kan kalo yang namanya privasi itu rahasia, dan yang namanya rahasia itu ya nggak semua orang boleh tau. Kalo udah banyak yang tau, namanya udah bukan rahasia lagi. Yakan? :) Dan yang lebih penting dari itu semua, kalo kamu dikasih kepercayaan sama seseorang buat menjaga privasinya, yang harus kamu lakuin ya dijaga. Jangan diumbar kemana-mana. Orang itu perc...

long gone and moved on

……I was born to tell you I love you. And i am torn to do what i have to. To make you mind stay with me tonight… “itu lagunya siapa kak?” Kamu berhenti bermain gitar dan memandangku, “laguku dong”. “yang bener ah…” “loh iya beneran. Bagus ya?” “huuu ini mesti bohong terus. Lagunya siapa?” “punyanya secondhand serenade, judulnya your call” *** Gitar tua itu masih disana. Masih tergantung anggun di dinding di sebelah meja belajar. Gitar tua itu masih sama seperti dulu. Nada-nadanya juga tidak berubah menjadi sumbang. Gitar itu tetap menjadi gitar yang penuh dengan kenangan. Penuh dengan serpihan-serpihan masa lalu. Mungkin itu yang membuatku tak berani menyentuhnya barang sesentipun. Lagipula untuk apa? Aku bahkan tak bisa memainkannya sama sekali. Aku hanya tahu chord C saja. Apa gunanya? Lagu apa yang hanya menggunakan chord C? Tidak ada. Aku ingat, dulu, aku sering ditertawakan gara-gara hal ini.  Selalu…..oleh orang yang sama………. semuanya sekarang sudah berubah. ...