Skip to main content

aku ingin menulis tentang kamu

Aku ingin menulis tentangmu.
 
Lagi.
 
Mengeluarkan semua hal yang sudah serumit benang kusut di dalam otakku.

Aku ingin menulis tentangmu. 

Tapi pikiranku mendadak membeku. 

Aku tidak tahu harus memulai dari bagian mana. 

Aku tidak tahu bagaimana awalnya dan aku tidak mau memikirkan bagaimana akhirnya.
 
Aku ingin menulis tentangmu. 

Tentang bagaimana indahnya senyumanmu.

Tentang bagaimana suara gelak tawamu. 

Tentang semua kekonyolan-kekonyolan yang kau lakukan. 

Aku ingin menulis tentang bagaimana aku jatuh hati padamu. 

Tentang bagaimana setiap hal kecil yang kau lakukan bisa membuat duniaku berwarna. 


Tentang bagaimana kau datang bagai hujan membasahiku yang kering kerontang. 

Tentang bagaimana aku suka memperhatikan lipatan-lipatan kelopak matamu. 

Tentang bagaimana aku yang tak pernah berhenti terpesona melihat jari-jarimu menyentuh senar itu.


Aku ingin menulis tentangmu. 

Seperti mereka. 

Yang selalu bisa menulis tentang orang yang mereka sayangi.
 
Aku tidak bisu. 

Tapi aku tak mampu bicara. 

Aku tidak lumpuh. 

Tak mampu bergerak. 

Aku tidak buta. 

Tapi aku tidak mampu melihat.



Aku tidak bisa menciptakan kata-kata indah. 

Aku tak pandai bermain sastra. 

Aku tak pernah pandai mengartikan pikiranku sendiri. 

Aku tak bisa apa-apa. 

Bahkan jika itu untuk diriku sendiri.
 
Namun semua itu tidak menghentikan keinginanku untuk menulis tentangmu.


Di akhir paragraf yang bertele-tele ini, 

setelah aku berusaha sekuatku untuk menyingkirkan ketidakmampuanku, 

aku hanya bisa menuliskan ini, disini :

Selamat pagi, Rangga.

Comments

Popular posts from this blog

ketika dinding punya telinga

When secret admirer becomes published admirer.... Aku dulu udah pernah bilang di postinganku yang jaman batu itu... kalo sebuah rahasia akan tetap jadi rahasia sama si pemilik rahasia menghendaki itu untuk tetap jadi rahasia.  Dan kemungkinan rahasia itu terbongkar bakal kecil kalo si pemilik rahasia mampu menjaga sikap, tingkah laku serta omongannya.  Mungkin beberapa orang akan tau dengan sendirinya,  tapi dia mungkin akan tetap diam sampai si pemilik rahasia membagi rahasia yang dia punya kepadanya. Rahasia akan tetap jadi rahasia.  Tapi yang namanya tembok pasti punya telinga.  Dan yang namanya hati pasti nggak bisa disatukan pendapatnya sama otak.  Perasaan itu hati yang ngatur, bukan otak.  Otak sama sekali nggak punya kuasa atas perasaan. Jadi ketika hati sudah muak menyimpan rahasianya sendiri,  ketika perasaan sudah membuncah ingin meledak... jalan satu-satunya yang bisa dilakukan si pemilik rahasia adalah bercerita.  Lewa...

anak kecil yang menangis karena ingin diberi permen

Kadang aku suka capek.  Suka lelah.  Suka penat.  Sama diriku sendiri.  Kadang juga aku suka kecewa sama diriku sendiri.  Karena aku tau aku ini mengecewakan,  tapi aku masih suka berlari untuk mencari pembenaran.  Pembenaran atas semua hal yang sudah aku kecewakan. Suka bilang "aku pengen sendiri",  tapi bahkan aku tidak pernah suka dengan kesendirian itu sendiri.  Suka bilang "kita jalan kaki kesana yuk!",  karena lagi penat dan banyak pikiran  walaupun kebanyakan mereka yang diajak selalu menolak dan bilang, "mau ngapain? Capek. Kamu kaya kurang kerjaan aja". Suka sengaja hilang,  sengaja lari.  Cuma untuk tau apakah akan ada yang peduli dan merelakan waktunya untuk pergi mencari. Suka diam setiap ada sesuatu,  sampai ada yang duduk di sampingku dan bertanya, "kamu ada apa? Ayo cerita". Mereka bilang cara berjalanku selalu lambat dan terkesan tidak niat.  Dan aku selalu mengelak dan berbohong bahwa ...

pulang ke rumah

Rumah? Sebenernya apasih yang bisa disebut rumah itu. Bangunan beratap dengan kasur bantal dan guling di dalamnya? Atau apa? Sebenernya apa yang bisa dan layak aku sebut sebagai rumah? Kriteria apa yang memenuhi untuk kemudian bisa disebut rumah. Dan ketika aku bilang, “I wanna go home,” sebenernya ‘home’ seperti apa yang ingin aku tuju? Walaupun aku masih belum mampu menjawab pertanyaan yang aku ajukan sendiri, aku rasa tidak semua tempat bisa disebut rumah, dan tidak semua tempat akan terasa seperti rumah. Dan aku pikir, kalian juga setuju. Masafin bilang, aku selalu susah buat diajak kumpul, merapat menuju keramaian dan gelak tawa. Masafin bilang aku ngga pernah berubah. Selalu aja bermasalah setiap ada kumpul-kumpul. Dia bilang aku selalu malas bersosialisasi, aku tidak mau hidup di luar duniaku, aku tidak mau berinteraksi selain dengan duniaku. Aku juga tidak tahu. Tidak tahu mungkin memang bukan jawaban yang diinginkan ketika ada pertanyaan. Tapi sejauh ini, a...