Skip to main content

Posts

Definisi Merindu - KKN : Memories Last Forever (Part 03.)

"kau adalah puisi hati, di kala rindu tak bertepi..." Oktober, 2017. KKN sudah berakhir berbulan-bulan yang lalu. Semua laporan, borang kegiatan, pertanggung-jawaban, semua sudah tuntas. Pun bahkan nilai KKN sudah terpampang cantik di portal akademik mahasiswa. Euforia KKN sudah berakhir. Seberapa keras aku berusaha untuk me- maintain kehangatan itu. Serba-serbi KKN-PPM UGM Periode Antar Semester 2017 telah benar-benar usai. Topik perbincangan pun sudah mulai berganti dengan hal-hal lain yang lebih diprioritaskan. Tapi kenapa aku masih saja stuck di dalam memori dua bulan KKN? Ketika semua sudah mulai bergerak dan memulai kehidupannya seperti biasa, kenapa aku masih bangun tidur dengan perasaan hampa seolah jiwaku masih tertinggal di dalam kenangan dua bulan itu?  Ketika ditanya, hal apa yang paling berkesan di momen 2 bulan KKN? Sedetik aku terhenyak kebingungan, hmmmm apa ya? Apa hal yang paling berkesan?  Aku bingung harus memilih mana yang h...

orang-orang yang berpikiran pendek

Ide tulisan ini bermula dari semakin maraknya pemberitaan intoleransi beragama dan lain lainnya pada berbagai media sosial, baik cetak maupun elektronik. Apabila ada yang berpendapat bahwa menulis adalah hal yang mudah, sesungguhnya mereka termasuk ke dalam golongan orang-orang sok tau yang berpikiran sempit. Tulisan ini sebenarnya adalah penggabungan antara paper mata kuliah pendidikan agama Islam yang sempat dikumpulkan sebagai tugas untuk ujian akhir semester kemarin, pesan broadcast salah satu teman di grup sosial media dan pemikiran pribadi. Sesungguhnya tulisan ini tidak berniat mendukung atau menjatuhkan golongan-golongan tertentu. Dibanding tulisan-tulisan sebelumnya (yang isinya hanya keluhan-keluhan anak remaja alay yang penuh drama), mungkin tulisan ini agak berbobot (sedikit). Menurutku, benar jika beragama pada era dewasa ini memiliki tantangan tersendiri karena selain dihadapkan pada semakin banyaknya prespektif pemahaman yang berbeda dalam lingkup agama tertentu di...

andai aku cantik.....

Sebelum aku benar-benar menuangkan isi pikiranku dalam tulisan ini. Aku berharap apa yang aku pikirkan hanyalah perasaanku semata. Semata-mata perasaan hanya karena pemikiran aneh dan semoga tidak benar-benar terjadi seperti apa yang aku pikirkan. Tapi pikiran ini cukup menggangguku. Dan kamu, tidak, tidak hanya kamu, tapi kalian semua yang membaca tulisan ini harus tau apa saja yang menggangguku. Andai aku cantik. Bukan. Ini bukan karena aku tidak mensyukuri apa yang sudah Allah berikan padaku. Tapi pemikiran “andai aku cantik” ini terus-menerus memenuhi pikiranku dan mulai terasa mengganggu. Aku terlahir seperti ini. Tidak cantik. Tidak pintar. Tidak memiliki kelebihan apapun yang bisa dibanggakan. Aku tidak memiliki sesuatu yang membuat mereka dengan lantang berkata dan mengumandangkannya pada dunia, “aku bangga punya Nadia. Aku bangga ada Nadia disini. Dan aku bangga dari sekian ratus juta penduduk Indonesia, aku diberi kesempatan mengenal Nadia”.  Andai aku cantik. ...

berhenti nyaman

Tempat ini tidak lagi nyaman tanpa kamu, sepertinya. Semuanya berubah. Tempat ini jadi terasa menyesakkan. Iya, tempat ini. Yang selalu aku anggap tempatku pulang. Yang selalu aku anggap tempatku berlari dari kenyataan. Yang selalu aku anggap rumah kedua. Kenapa aku seperti tidak ada artinya? Kenapa sekarang semua terasa sangat asing? Kenapa aku merasa semua berbeda semenjak kamu pergi?

jangan jadi annoying

Katanya ngga boleh ngegantungin kebahagiaan kita sama orang lain. Karena emang bahagia harusnya kita sendiri yang nyiptain. Mau milih bahagia atau bermuram durja juga murni pilihan kita sendiri. Aku ngga peduli gimana kamu sama dia. Kamu bilang kamu udah diminta langsung buat jadi mantu sama orang tuanya juga aku ngga peduli. Kamu bilang kamu selalu diajakin kumpul sama keluarganya atau dia selalu diajakin kumpul keluargamu aku juga ngga peduli. Kamu sama dia saling panggil kakak adek kaya orangtua kalian juga aku seriusan ngga peduli. Kalo udah ngomongin jodoh, udah aku angkat tangan. Seberharap apapun aku pingin masafin jadi jodohku, jadi temen hidupku di masa depan, jadi pendamping saat aku lanjut usia, seberharap apapun aku, itu cuma harapan. Aku ngga tau apa yang bakal Allah siapkan buat aku sama masafin. Entah nantinya bakal beneran jodoh (aaamiiiin) atau entah ternyata kami sudah punya jodoh masing-masing, disikapi dewasa ajalah, sama-sama berusaha, kalo memang bukan j...

pulang ke rumah

Rumah? Sebenernya apasih yang bisa disebut rumah itu. Bangunan beratap dengan kasur bantal dan guling di dalamnya? Atau apa? Sebenernya apa yang bisa dan layak aku sebut sebagai rumah? Kriteria apa yang memenuhi untuk kemudian bisa disebut rumah. Dan ketika aku bilang, “I wanna go home,” sebenernya ‘home’ seperti apa yang ingin aku tuju? Walaupun aku masih belum mampu menjawab pertanyaan yang aku ajukan sendiri, aku rasa tidak semua tempat bisa disebut rumah, dan tidak semua tempat akan terasa seperti rumah. Dan aku pikir, kalian juga setuju. Masafin bilang, aku selalu susah buat diajak kumpul, merapat menuju keramaian dan gelak tawa. Masafin bilang aku ngga pernah berubah. Selalu aja bermasalah setiap ada kumpul-kumpul. Dia bilang aku selalu malas bersosialisasi, aku tidak mau hidup di luar duniaku, aku tidak mau berinteraksi selain dengan duniaku. Aku juga tidak tahu. Tidak tahu mungkin memang bukan jawaban yang diinginkan ketika ada pertanyaan. Tapi sejauh ini, a...

mungkin lebih ke....hati?

empati? simpati? tiba-tiba ingin sekedar membagi apa yang mengusik pikiran.  yang rasanya menusuk-nusuk dan membuat otak seketika memberi perintah untuk mengeluarkan air mata lewat kelopak mata indah ciptaan Allah ini. sepertinya aku dulu pernah bercerita lewat tulisanku di blog ini sebelum ini,  tentang bagaimana aku tidak mampu menahan perasaan penuh kesakitan saat melihat betapa apa yang terjadi di dunia ini terlalu tidak adil,  terlalu tidak sesuai pada tempatnya.  dan betapa rasa sakit itu bertambah ketika aku bahkan belum mampu melakukan apapun untuk mungkin setidaknya mengubah keadaan,  memperbaiki keadaan,  menempatkan apa yang seharusnya ada pada tempatnya. di depan gerbang utara fakultasku,  setiap pagi,  selalu setiap pagi,  dan memang sejak pagi bahkan ketika jalanan masih sepi dan belum banyak mahasiswa yang berkeliaran di area kampus,  aku melihat kakek itu duduk di pinggir jalan.  selalu di saat yan...