Skip to main content

Posts

ketika aku bicara tentang obsesi

Tolong dong, aku minta penjelasan yang scientific,  kenapa sekarang aku menjadi semakin hobi melihat crane tower ? Pertanyaan itulah yang kemudian, tiba-tiba membuatku ingin menulis ini. Suddenly, I wanna talk about obsession. Sebenernya, pingin banget ngelanjutin cerita tentang 1 bulan melelahkan yang seru di Jabodetabek, tapi ternyata melanjutkan cerita tentang itu bukanlah merupakan suatu hal yang mendesak. Karena pada kenyataannya, sepulang dari sana, aku kembali dihadapkan pada rutinitas ngelab, yang walaupun SKS sudah habis, tapi sekarang aku dibebani laporan kegiatan KL, draf seminar kelas dan tentu saja gongnya adalah skripsi. Aku terbebani oleh target yang aku buat sendiri dan semakin terbebani karena melihat teman-teman seperjuanganku sudah banyak yang menyandang gelar sarjana. Well , “aku kapan?”, pertanyaan itulah yang selalu dan terus menerus aku tanyakan tanpa tahu apa jawabannya. Untuk menulis ini, aku mengistirahatkan sesaat laporan KL dan draf seminar k...

takdir, katanya

yap. takdir, katanya. kadang bertanya-tanya kenapa dulu aku begitu yakin memilih mikrobiologi walaupun hasrat dan impian sejak kecil jadi arsitek. kenapa dulu hanya memilih mikrobiologi tanpa sekalipun terpikir untuk berani mengambil resiko mencoba teknik arsitektur. jadi, mari kita bermain-main dengan "what if". bagaimana jika dulu ternyata aku memilih teknik arsitektur alih-alih mikrobiologi. dan diterima. maka aku akan menjadi bagian dari KMFT. menjadi bagian dari Klaster Insfrastuktur. menjadi bagian dari KMTA. aku akan berada dalam hiruk-pikuk nyanyian Supersonik saat Porsenigama dimulai. aku akan bersorak-sorak bersama yang lain "Demi birunya lautan dan kuning keemasannya mentari pagi, Teknik Jaya! Teknik Jaya! Teknik! Teknik! Teknik! Jaya! Jaya! Jaya!". aku akan lebih mudah mencari referensi di toko-toko buku. aku akan dapat dengan mudah menjawab pertanyaan orang jika ditanya dari jurusan apa. It's all about "Pride and Pr...

Definisi Merindu - KKN : Memories Last Forever (Part 03.)

"kau adalah puisi hati, di kala rindu tak bertepi..." Oktober, 2017. KKN sudah berakhir berbulan-bulan yang lalu. Semua laporan, borang kegiatan, pertanggung-jawaban, semua sudah tuntas. Pun bahkan nilai KKN sudah terpampang cantik di portal akademik mahasiswa. Euforia KKN sudah berakhir. Seberapa keras aku berusaha untuk me- maintain kehangatan itu. Serba-serbi KKN-PPM UGM Periode Antar Semester 2017 telah benar-benar usai. Topik perbincangan pun sudah mulai berganti dengan hal-hal lain yang lebih diprioritaskan. Tapi kenapa aku masih saja stuck di dalam memori dua bulan KKN? Ketika semua sudah mulai bergerak dan memulai kehidupannya seperti biasa, kenapa aku masih bangun tidur dengan perasaan hampa seolah jiwaku masih tertinggal di dalam kenangan dua bulan itu?  Ketika ditanya, hal apa yang paling berkesan di momen 2 bulan KKN? Sedetik aku terhenyak kebingungan, hmmmm apa ya? Apa hal yang paling berkesan?  Aku bingung harus memilih mana yang h...

orang-orang yang berpikiran pendek

Ide tulisan ini bermula dari semakin maraknya pemberitaan intoleransi beragama dan lain lainnya pada berbagai media sosial, baik cetak maupun elektronik. Apabila ada yang berpendapat bahwa menulis adalah hal yang mudah, sesungguhnya mereka termasuk ke dalam golongan orang-orang sok tau yang berpikiran sempit. Tulisan ini sebenarnya adalah penggabungan antara paper mata kuliah pendidikan agama Islam yang sempat dikumpulkan sebagai tugas untuk ujian akhir semester kemarin, pesan broadcast salah satu teman di grup sosial media dan pemikiran pribadi. Sesungguhnya tulisan ini tidak berniat mendukung atau menjatuhkan golongan-golongan tertentu. Dibanding tulisan-tulisan sebelumnya (yang isinya hanya keluhan-keluhan anak remaja alay yang penuh drama), mungkin tulisan ini agak berbobot (sedikit). Menurutku, benar jika beragama pada era dewasa ini memiliki tantangan tersendiri karena selain dihadapkan pada semakin banyaknya prespektif pemahaman yang berbeda dalam lingkup agama tertentu di...

andai aku cantik.....

Sebelum aku benar-benar menuangkan isi pikiranku dalam tulisan ini. Aku berharap apa yang aku pikirkan hanyalah perasaanku semata. Semata-mata perasaan hanya karena pemikiran aneh dan semoga tidak benar-benar terjadi seperti apa yang aku pikirkan. Tapi pikiran ini cukup menggangguku. Dan kamu, tidak, tidak hanya kamu, tapi kalian semua yang membaca tulisan ini harus tau apa saja yang menggangguku. Andai aku cantik. Bukan. Ini bukan karena aku tidak mensyukuri apa yang sudah Allah berikan padaku. Tapi pemikiran “andai aku cantik” ini terus-menerus memenuhi pikiranku dan mulai terasa mengganggu. Aku terlahir seperti ini. Tidak cantik. Tidak pintar. Tidak memiliki kelebihan apapun yang bisa dibanggakan. Aku tidak memiliki sesuatu yang membuat mereka dengan lantang berkata dan mengumandangkannya pada dunia, “aku bangga punya Nadia. Aku bangga ada Nadia disini. Dan aku bangga dari sekian ratus juta penduduk Indonesia, aku diberi kesempatan mengenal Nadia”.  Andai aku cantik. ...

berhenti nyaman

Tempat ini tidak lagi nyaman tanpa kamu, sepertinya. Semuanya berubah. Tempat ini jadi terasa menyesakkan. Iya, tempat ini. Yang selalu aku anggap tempatku pulang. Yang selalu aku anggap tempatku berlari dari kenyataan. Yang selalu aku anggap rumah kedua. Kenapa aku seperti tidak ada artinya? Kenapa sekarang semua terasa sangat asing? Kenapa aku merasa semua berbeda semenjak kamu pergi?

jangan jadi annoying

Katanya ngga boleh ngegantungin kebahagiaan kita sama orang lain. Karena emang bahagia harusnya kita sendiri yang nyiptain. Mau milih bahagia atau bermuram durja juga murni pilihan kita sendiri. Aku ngga peduli gimana kamu sama dia. Kamu bilang kamu udah diminta langsung buat jadi mantu sama orang tuanya juga aku ngga peduli. Kamu bilang kamu selalu diajakin kumpul sama keluarganya atau dia selalu diajakin kumpul keluargamu aku juga ngga peduli. Kamu sama dia saling panggil kakak adek kaya orangtua kalian juga aku seriusan ngga peduli. Kalo udah ngomongin jodoh, udah aku angkat tangan. Seberharap apapun aku pingin masafin jadi jodohku, jadi temen hidupku di masa depan, jadi pendamping saat aku lanjut usia, seberharap apapun aku, itu cuma harapan. Aku ngga tau apa yang bakal Allah siapkan buat aku sama masafin. Entah nantinya bakal beneran jodoh (aaamiiiin) atau entah ternyata kami sudah punya jodoh masing-masing, disikapi dewasa ajalah, sama-sama berusaha, kalo memang bukan j...