Skip to main content

정신 차려!




Wah, I think I should stop watching romance dramas.

They really made me sick.

Why I told you this.



This is because I just watched Korean dramas during quarantine days and wahhh, though I can slowly learn the Korean language, I became biased about real life and fiction. Sometimes I talked to myself in the middle of the night when I couldn’t sleep, “Nadia, you watched too many dramas. Get back down! 정신 차려!”


I got confused about the meaning of life and love itself.


Somewhile, I think I don’t wanna get married. Why should I spend the rest of my life only with just one person? Shared home, bed, sad, happiness, and stuff like that. Why should I? I hate that. I just wanna be like a bird. Live freely. I’m not a tree, I can move somewhere if I’m feeling kinda uncomfortable. No, that’s not I don’t love him or something like that. I'm not ready yet, I’m just afraid….상처를 받거나 다른 사람을 다치게 할까봐, 두려워



Lately, I have watched old Korean dramas, first was drama starred Kim Joon-Myeon –you may know he is usually called Suho, the leader of one of the best Korean boy groups, named EXO. And you may also know that he’s currently in the military started last month after releasing his first solo album.

OK, this is TMI. 

Let’s back to the topic.

The drama I watched was The Universe’s Star. It was a mini-drama, consisted of 6 episodes, 30 minutes long per episode. Well, the story was so classic and cliché, but it warmed my heart. The drama was about a famous singer who fell in love with his fans who died and after 7 years miraculously life again. What hurt me the most was, I'm not that special. Those things will never happen to me, obviously.

The second was a drama named Andante, which starred Kim Jong-in –you may also know him as Kai, also a member of boy group EXO. Compared to Joon-Myeon’s drama, Jong-in’s drama has a warmer feeling. I cannot believe that I cried out while watching 4 last episodes. After watched Andante, suddenly I wanna be like Jong-in in that drama, become a caregiver for the oldest or sick person. But I realized that I didn’t have basic in the medical field, but can I? 
Please......



You know I just turned 24 years old this year and I realized that the older we are, didn’t make me more “adult” and wiser. The older I am, the more I realized that there’re many things in this cruel world that I haven’t know yet. Just like, what is life? Why do I live and? I am curious about what the hell love is. And so on, and so on.

You know what, sometimes life isn't happening the way we want it to be. when you thought what you did is the best you can, but it wasn't enough. no, you actually didn't do good enough. I think I should go to the psychiatrist instead of writing this shit in the middle of the night. 

it was great at the beginning. I was so confident that everything will go well. I don't know if it would be this hard. no, no one knows. suddenly everything becomes so exhausting.

I feel quite tired, even when I'm not really struggling. At some points, I was thinking, should I stop and give up. 

So, I started to read a book, a quite famous book, named The Subtle Art of Not Giving A Fuck by Mark Manson. I'm currently on what Manson called "Feedback Loop from Hell". I'm anxious about being anxious, which is causing more anxiety.

Then I recognized little by little that yes, not everything in this life we have to care about. Manson said we have to learn to only give a fuck about what’s truly fuck-worthy. And I'm trying to. Because every problem we have is never fucking going away, in cool language, we called it a mutation, yes, they just improved.


I’m 24 and I’m still searching what the fucking meaning of life. So what?!


Comments

Popular posts from this blog

ketika dinding punya telinga

When secret admirer becomes published admirer.... Aku dulu udah pernah bilang di postinganku yang jaman batu itu... kalo sebuah rahasia akan tetap jadi rahasia sama si pemilik rahasia menghendaki itu untuk tetap jadi rahasia.  Dan kemungkinan rahasia itu terbongkar bakal kecil kalo si pemilik rahasia mampu menjaga sikap, tingkah laku serta omongannya.  Mungkin beberapa orang akan tau dengan sendirinya,  tapi dia mungkin akan tetap diam sampai si pemilik rahasia membagi rahasia yang dia punya kepadanya. Rahasia akan tetap jadi rahasia.  Tapi yang namanya tembok pasti punya telinga.  Dan yang namanya hati pasti nggak bisa disatukan pendapatnya sama otak.  Perasaan itu hati yang ngatur, bukan otak.  Otak sama sekali nggak punya kuasa atas perasaan. Jadi ketika hati sudah muak menyimpan rahasianya sendiri,  ketika perasaan sudah membuncah ingin meledak... jalan satu-satunya yang bisa dilakukan si pemilik rahasia adalah bercerita.  Lewa...

anak kecil yang menangis karena ingin diberi permen

Kadang aku suka capek.  Suka lelah.  Suka penat.  Sama diriku sendiri.  Kadang juga aku suka kecewa sama diriku sendiri.  Karena aku tau aku ini mengecewakan,  tapi aku masih suka berlari untuk mencari pembenaran.  Pembenaran atas semua hal yang sudah aku kecewakan. Suka bilang "aku pengen sendiri",  tapi bahkan aku tidak pernah suka dengan kesendirian itu sendiri.  Suka bilang "kita jalan kaki kesana yuk!",  karena lagi penat dan banyak pikiran  walaupun kebanyakan mereka yang diajak selalu menolak dan bilang, "mau ngapain? Capek. Kamu kaya kurang kerjaan aja". Suka sengaja hilang,  sengaja lari.  Cuma untuk tau apakah akan ada yang peduli dan merelakan waktunya untuk pergi mencari. Suka diam setiap ada sesuatu,  sampai ada yang duduk di sampingku dan bertanya, "kamu ada apa? Ayo cerita". Mereka bilang cara berjalanku selalu lambat dan terkesan tidak niat.  Dan aku selalu mengelak dan berbohong bahwa ...

pulang ke rumah

Rumah? Sebenernya apasih yang bisa disebut rumah itu. Bangunan beratap dengan kasur bantal dan guling di dalamnya? Atau apa? Sebenernya apa yang bisa dan layak aku sebut sebagai rumah? Kriteria apa yang memenuhi untuk kemudian bisa disebut rumah. Dan ketika aku bilang, “I wanna go home,” sebenernya ‘home’ seperti apa yang ingin aku tuju? Walaupun aku masih belum mampu menjawab pertanyaan yang aku ajukan sendiri, aku rasa tidak semua tempat bisa disebut rumah, dan tidak semua tempat akan terasa seperti rumah. Dan aku pikir, kalian juga setuju. Masafin bilang, aku selalu susah buat diajak kumpul, merapat menuju keramaian dan gelak tawa. Masafin bilang aku ngga pernah berubah. Selalu aja bermasalah setiap ada kumpul-kumpul. Dia bilang aku selalu malas bersosialisasi, aku tidak mau hidup di luar duniaku, aku tidak mau berinteraksi selain dengan duniaku. Aku juga tidak tahu. Tidak tahu mungkin memang bukan jawaban yang diinginkan ketika ada pertanyaan. Tapi sejauh ini, a...